Sabtu, 25 Juni 2016

The Power Of Television



The Power Of Television


Si ucil jatuh hingga masuk rumah sakit karena menirukan aksi ‘’saruto’’ melompat dari pohon ke pohon.
Si samson dan jinem mengatasi permasalahan rumah tangga dengan perceraian  karena sering melihat berita gosip .
si kenthung  tak mau sekolah gara-gara tak dibelikan motor oleh orang tuannya setelah dia hobby menonton Si Coy ‘anak alasan’.
sedangkan si bejo jadi ingin kuliah setelah menonton acara “kick anggy” yang menggugah semangat yang menggebu.
Berita-berita diatas pernah saya dengar di TV dan di obrolan sehari-hari, ada apa dengan acara Televisi yang kita tonton setiap hari, begitu kuat sekali pengaruhnya terhadap setiap orang yang menonton hinga membuat sebuah dampak positif hingga yang paling negatif, sudahkah  dipertimbangkan penayangan acara-acara TV tersebut dan sudah pulakah mereka yang membuat memikirkan untuk dampaknya di masyarakat luas, tentunya pertanyaan ini ditanyakan kembali kepada yang mengurus uji kelayakan dalam penayangan sebuah acara si TV dan juga pada masyarakat luas termasuk kita semua yang menontonan TV.
Televisi menjadi penting sekali dalam sebuah  dunia hiburan dan informasi karena begitu beragam sekali acara-acara yang dipertontonkan dan banyak pula yang menonoton, bagai sebuah perut yang akan selalu di beri makanan ketika lapar maupun tak lapar’ karena tayangan TV selalu ada dalam jam saat manusia beraktivitas. Televisi seperti memberi semacam asupan bagi otak-otak yang menonton dalam wujud bentuk visual dan suara, hal demikian sangatlah kuat untuk menarik perhatian pada yang menonton terlepas dari dampak yang didapat kelak.
Konon cerita ketika para saudara-saudara acin hery datang untuk berkunjung kerumahnya, secara tidak langsung acin melihat fenomena yang unik ketika ada salah satu acara di stasiun TV yang berbau India sedang tayang. saudara-saudara acin sedang nonton bareng acara tersebut, mereka seperti tersihir dan terhipnotis pada acara yang mereka tonton. acin memperhatikan sorot mata saudara-saudaranya yang jarang berkedip alias melongo terbawa masuk kedalam TV. sejak itu acin bertanya-tanya kenapa bisa seperti itu? Bagaimana dampaknya ? Dia mencoba bertanya dan mendiskuskan kebeberapa teman apa pendapat mereka dan pernakah mempunyai kegelisahan seperti ini, akhirnya beberapa teman merespon maka munculah project tentang kekuatan Televisi atau The power of Television yang dicetuskan atas diskusi bersama.


The power of Television adalah tema yang digarap enam perupa muda yang cukup bervariatif gagasannya dan memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai TV, keenam orang tersebut memberikan sebuah sentuhan-sentuhan pemetaan tentang apa yang di gelisahkan sehingga menjadi sebuah bentuk karya yang cukup menarik untuk dikemas dan ditampilkan dengan gaya khas masing-masing sehingga membuat kita untuk merenung kembali tentang adanya TV ini.
Acin hery adalah pemuda naif yang dewasa cenderung melihat sesuatu dengan gaya anak-anak tapi dia menyikapinya dengan penuh penyikapan yang menurut saya terolah dengan cukup baik, mempertimbangkan apa yang dia lihat seperti gambar-gambar khasnya yang terkesan seram dan naif tapi ketika dia sudah membicarakan atau mempresentasikan terlihat sekali kedewasaan karya-karyanya. Menurut acin Televisi adalah sebuah ajaran yang tersampaikan secara perlahan sehingga si penonton secara tidak langsung mengamalkan apa yang mereka tonton, dia cenderung mengkhawatirkan dampak TV terhadap  anak-anak yang menurutnya masih belum mempunyai semacam filter atau penyaring untuk mengolah dan menyaring tentang tayangan di TV sehingga anak-anak masih menangkap secara mentah-mentah.
            Dony fernando memandang televisi   adalah suatu media yang dengan cepat bisa mengubah pola berfikir yang kadang terkesan kurang pas dan kurang wajar terbentuk dengan sendirinya, dony mencoba memetakan apa yang pernah dia rasakan saat melihat TV melalui pengalamannya, dia mengaplikasikan kedalam bentuk karya mural dan instalasi. ‘WA HAHAHA PENIRU’ teks yang ada dalam karya instalasinya  tertulis dengan penuh satir di layar TV’nya seakan-akan kita diingatkan kembali tentang apa yang kita tiru sudah benarkah atau malah menjerumuskan? Kembali lagi pada diri kita masing-masing.
            Tomy Non Sinkron merasakan bahwa TV seolah-olah memperbudak dirinya, hadir disetiap waktu dan memberi sebuah energi yang memaksa  untuk dilihat, padahal ada sesuatu yang lebih penting untuk dikerjakan tapi TV hadir memberikan tawaran menggiurkan dengan hanya duduk atau tiduran sudah meberikan sesuatu yang menghibur. dalam karyanya kali ini dia merepreseentasikan dengan hal-hal yang berbau keramat sebagai simbol TV sebagai agama yang ke dua baginya seperti layaknya hal yang tidak bisa ditinggalkan.
Aziz dan Borat pemuda yang berasal dari Jogja ini  memiliki sudut pandang bahwa TV merupakan object konsumerisme secara berlebihan sehingga membuat orang yang menonton selalu kurang dan kurang, akibatnya mereka yang menonoton secara berlebihan serta terbawa akan apatis terhadap yang sedang terjadi didunia nyata, yang penting menonton dan menonton tanpa ada tujuan yang pasti selain hiburan. Mereka berdua berkolaborasi membawakan karya perfomance art yang dirancang secara ciamik dengan mengolah tubuh dan ruang sebagai representasi konsep sudut pandang mereka.


Trio Muharam pria asal Bandung ini  berargument bahwa Tv adalah sebuah repetisi visual dan suara yang merasuk menjadi semacam doktrin di dalam diri setiap orang yang menonton tanpa bisa masuk secara nyata dalam kejadian di TV. Trio mencoba membuat semacam uoforia dalam  ruang yang diolah dengan menggunakan  unsur-unsur TV’ repetisi suara,gambar, dan lampu mengunakan mekanik sederhana yang disususun secara menarik. ‘please toouch! Is not Tv show’ teks dalam bagian karyanya ini mengajak kita untuk bebas masuk dan menyentuh karya trio tapi tidak  bisa dilakukan di TV.
Apa yang mereka tampilkan tentunya tak lepas dari Proses semi residence mereka selama 10 hari yang saya kira cukup keren, serasa jadi saling melengkapi belajar mengobservasi, menulis, wawancara demi menunjang konsep karya yang mereka buat tapi walau belum sempurna setidaknya mereka sudah berani keluar dari titik nyaman yang biasa dilakukan dalam proses penciptaan karyanya, karena menurut saya hasil akhir adalah bonus, proses lebih bisa dihargai , dan saling mengevaluasi lah yang membentuk diri.
Marilah membuat realitas kita menjadi lebih berharga dan menangkap hal positif  dari dunia maya.
   Chairol Imam
(Happines house)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar