The Power Of Television
Si
ucil jatuh hingga masuk rumah sakit karena menirukan aksi ‘’saruto’’ melompat
dari pohon ke pohon.
Si
samson dan jinem mengatasi permasalahan rumah tangga dengan perceraian karena sering melihat berita gosip .
si
kenthung tak mau sekolah gara-gara tak
dibelikan motor oleh orang tuannya setelah dia hobby menonton Si Coy ‘anak
alasan’.
sedangkan
si bejo jadi ingin kuliah setelah menonton acara “kick anggy” yang menggugah
semangat yang menggebu.
Berita-berita diatas pernah saya dengar di TV dan di
obrolan sehari-hari, ada apa dengan acara Televisi yang kita tonton setiap hari,
begitu kuat sekali pengaruhnya terhadap setiap orang yang menonton hinga
membuat sebuah dampak positif hingga yang paling negatif, sudahkah dipertimbangkan penayangan acara-acara TV
tersebut dan sudah pulakah mereka yang membuat memikirkan untuk dampaknya di
masyarakat luas, tentunya pertanyaan ini ditanyakan kembali kepada yang
mengurus uji kelayakan dalam penayangan sebuah acara si TV dan juga pada
masyarakat luas termasuk kita semua yang menontonan TV.
Televisi menjadi penting sekali dalam sebuah dunia hiburan dan informasi karena begitu
beragam sekali acara-acara yang dipertontonkan dan banyak pula yang menonoton,
bagai sebuah perut yang akan selalu di beri makanan ketika lapar maupun tak
lapar’ karena tayangan TV selalu ada dalam jam saat manusia beraktivitas.
Televisi seperti memberi semacam asupan bagi otak-otak yang menonton dalam
wujud bentuk visual dan suara, hal demikian sangatlah kuat untuk menarik
perhatian pada yang menonton terlepas dari dampak yang didapat kelak.
Konon cerita ketika para saudara-saudara acin hery
datang untuk berkunjung kerumahnya, secara tidak langsung acin melihat fenomena
yang unik ketika ada salah satu acara di stasiun TV yang berbau India sedang
tayang. saudara-saudara acin sedang nonton bareng acara tersebut, mereka
seperti tersihir dan terhipnotis pada acara yang mereka tonton. acin
memperhatikan sorot mata saudara-saudaranya yang jarang berkedip alias melongo
terbawa masuk kedalam TV. sejak itu acin bertanya-tanya kenapa bisa seperti
itu? Bagaimana dampaknya ? Dia mencoba bertanya dan mendiskuskan kebeberapa
teman apa pendapat mereka dan pernakah mempunyai kegelisahan seperti ini,
akhirnya beberapa teman merespon maka munculah project tentang kekuatan Televisi
atau The power of Television yang dicetuskan atas diskusi bersama.
The power of Television adalah tema yang digarap
enam perupa muda yang cukup bervariatif gagasannya dan memiliki sudut pandang
yang berbeda mengenai TV, keenam orang tersebut memberikan sebuah
sentuhan-sentuhan pemetaan tentang apa yang di gelisahkan sehingga menjadi
sebuah bentuk karya yang cukup menarik untuk dikemas dan ditampilkan dengan
gaya khas masing-masing sehingga membuat kita untuk merenung kembali tentang
adanya TV ini.
Acin hery adalah pemuda naif yang dewasa cenderung
melihat sesuatu dengan gaya anak-anak tapi dia menyikapinya dengan penuh
penyikapan yang menurut saya terolah dengan cukup baik, mempertimbangkan apa
yang dia lihat seperti gambar-gambar khasnya yang terkesan seram dan naif tapi
ketika dia sudah membicarakan atau mempresentasikan terlihat sekali kedewasaan
karya-karyanya. Menurut acin Televisi adalah sebuah ajaran yang tersampaikan
secara perlahan sehingga si penonton secara tidak langsung mengamalkan apa yang
mereka tonton, dia cenderung mengkhawatirkan dampak TV terhadap anak-anak yang menurutnya masih belum
mempunyai semacam filter atau penyaring untuk mengolah dan menyaring tentang
tayangan di TV sehingga anak-anak masih menangkap secara mentah-mentah.
Dony fernando memandang televisi adalah suatu media yang dengan cepat bisa
mengubah pola berfikir yang kadang terkesan kurang pas dan kurang wajar
terbentuk dengan sendirinya, dony mencoba memetakan apa yang pernah dia rasakan
saat melihat TV melalui pengalamannya, dia mengaplikasikan kedalam bentuk karya
mural dan instalasi. ‘WA HAHAHA PENIRU’ teks yang ada dalam karya instalasinya tertulis dengan penuh satir di layar TV’nya
seakan-akan kita diingatkan kembali tentang apa yang kita tiru sudah benarkah
atau malah menjerumuskan? Kembali lagi pada diri kita masing-masing.
Tomy Non Sinkron merasakan bahwa TV
seolah-olah memperbudak dirinya, hadir disetiap waktu dan memberi sebuah energi
yang memaksa untuk dilihat, padahal ada
sesuatu yang lebih penting untuk dikerjakan tapi TV hadir memberikan tawaran
menggiurkan dengan hanya duduk atau tiduran sudah meberikan sesuatu yang
menghibur. dalam karyanya kali ini dia merepreseentasikan dengan hal-hal yang
berbau keramat sebagai simbol TV sebagai agama yang ke dua baginya seperti
layaknya hal yang tidak bisa ditinggalkan.
Aziz dan Borat pemuda yang berasal dari Jogja ini memiliki sudut pandang bahwa TV merupakan
object konsumerisme secara berlebihan sehingga membuat orang yang menonton
selalu kurang dan kurang, akibatnya mereka yang menonoton secara berlebihan
serta terbawa akan apatis terhadap yang sedang terjadi didunia nyata, yang penting
menonton dan menonton tanpa ada tujuan yang pasti selain hiburan. Mereka berdua
berkolaborasi membawakan karya perfomance art yang dirancang secara ciamik
dengan mengolah tubuh dan ruang sebagai representasi konsep sudut pandang
mereka.
Trio Muharam pria asal Bandung ini berargument bahwa Tv adalah sebuah repetisi
visual dan suara yang merasuk menjadi semacam doktrin di dalam diri setiap
orang yang menonton tanpa bisa masuk secara nyata dalam kejadian di TV. Trio
mencoba membuat semacam uoforia dalam ruang yang diolah dengan menggunakan unsur-unsur TV’ repetisi suara,gambar, dan
lampu mengunakan mekanik sederhana yang disususun secara menarik. ‘please
toouch! Is not Tv show’ teks dalam bagian karyanya ini mengajak kita untuk
bebas masuk dan menyentuh karya trio tapi tidak
bisa dilakukan di TV.
Apa yang mereka tampilkan tentunya tak lepas dari Proses
semi residence mereka selama 10 hari yang saya kira cukup keren, serasa jadi
saling melengkapi belajar mengobservasi, menulis, wawancara demi menunjang
konsep karya yang mereka buat tapi walau belum sempurna setidaknya mereka sudah
berani keluar dari titik nyaman yang biasa dilakukan dalam proses penciptaan
karyanya, karena menurut saya hasil akhir adalah bonus, proses lebih bisa dihargai
, dan saling mengevaluasi lah yang membentuk diri.
Marilah
membuat realitas kita menjadi lebih berharga dan menangkap hal positif dari dunia maya.
Chairol Imam
(Happines
house)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar