Penyesalan selalu datang di akhir,
aku selalu sepakat dengan kata itu banyak orang yang lebih tua dariku bercerita
tentang apa yang telah mereka lakukan dulu dan apa yang mereka dapat sekarang
tentunya tidak jauh dari usaha yang
telah mereka lakukan kemarin. Rata-rata apa yang mereka sesali pada waktu dulu
karena mereka tidak berbuat sesuatu atau terlalu santai akibatnya mereka tidak
menjadi apa yang mereka inginkan di keesokan harinya karena keinginan tidak sebanding dengan usahanya, tentunya menjadi
catatan penting bagi kita semua.
Santai mulu? Atau santai terus? arti
kata di sini adalah menanyakan apa sih yang kita lakukan saat santai? kok
santai terus? memang tidak ada kerjaan? ataukah lari dari kenyataan? pertanyaan
tersebut tentu menjadi sebuah kegelisahan yang sangat mengganggu. Banyak fakta
yang selalu saya dengar, lihat, dan kadang saya fikir’ orang yang menyatakan
bahwa hidupnya selalu monoton ‘gini-gini aja’ tapi yang membuat seperti itu
adalah dirinya sendiri padahal memaknai kata santai menjadi lebih positif
adalah mengapa kita tidak melakukan sesuatu yang berguna dengan tidak ada
ketegangan atau santai? Bukan santai tanpa melakukan apa-apa secara terus
menerus tiada esensi yang positif, sehingga menjadi kebiasaan atau habit.
Aktivitas santai tentu tidak bisa
dipungkiri bahwa setiap orang melakukan itu dengan pemaknaan yang berbeda-beda,
menjadi diri sendiri memang baik tapi sejauh mana diri kita bisa bermanfaat
bagi sesama, itu yang lebih baik bukan menjadi diri sendiri untuk apatis
terhadap lingkungannya, bukankah seniman itu peka terhadap sekitarnya. Udara
yang sejuk selalu membuat kita tenang dan nyaman tapi sebenarnya itu salah satu
peringatan yang dilakukan alam supaya kita peka terhadap sekitar sebagaimana
kita merasakan udara yang sejuk itu.
Solo menjadi banyak pembicaraan
tentang aktivitas seni rupanya yang adem ayem tapi nampaknya memang benar. Segudang
persoalan yang ada dan begitu kompleks coba dipecahkan oleh beberapa komunitas ,
secara perlahan mulai terpetakan tapi saya pikir masih sedikit sekali pemikir
dan pelaku untuk membuat gerakan demi mencapai infrastruktur seni rupa yang
belum terbentuk dengan baik, tentunya menjadi PR bagi kita semua untuk yang
saat ini tinggal dan berkesenian di solo.
Pameran kali ini diikuti oleh 8 anak
muda yang tergabung dalam acara presentasi karya di ‘NongSants’(Nongkrong
Santai), lewat acara NongSants tersebut teman-teman masih membawa spirit santai
mereka dalam pameran kali ini, mereka mencoba mengevaluasi apa yang telah mereka lakukan dalam proses
mereka masing-masing dan membawanya dalam pameran kali ini karena mereka juga
menyadari bahwa santai tanpa melakukan apa-apa juga membuat mereka stagnan.
Fadil algofar dalam proses penciptaan
karyanya dia selalu membawakan konsep-konsep pribadi menjadikan dirinya sendiri
sebagai ide dalam karya-karyanya. ‘Hasrat’ judul karya berukuran 40x70 cm
menceritakan tentang keinginan yang banyak sekali ingin dia wujudkan tapi dalam
kenyataannya tak semudah membalikan tangan dan tak seindah seperti dalam
angan-angan pasti ada halngan rintangan yang harus dihadapinya perlu proses dan
waktu yang panjang untuk mewujudkan keinginannya. Saya pikir cukup menarik dia
menggunakan objek-objek sederhana dalam karyanya seperti tangan, gelas , mata ,
paku dan rantai yang dia ilustrasikan menjadi sebuah karya yang bisa mudah
dipahami oleh yang melihat karyanya.
M. Nursina membuat pengulangan-pengulangan
garis hingga membentuk sebuah objek vespa dan pengemudinya dengan membawa
nuansa yang romantis dia menjadikan karyanya hidup dan berirama, nursina adalah
seorang perantau dari padang yang menempuh pendidikan di solo . jarak rumah dan
kota perantauannya cukup jauh hingga dia kalau sekali pulang harus menghabiskan
banyak uang, oleh sebab itu dia jarang pulang seperti bang toyib yang di
rindukan orang rumah karena tak kunjung datang dengan latar belakang kerinduan
orang rumahnya dia menciptakan karya tersebut.
Nikmatnya kopi membuat orang lupa
waktu begitu kata shofi pemuda asal lamongan yang hobinya ngopi tak peduli jam
berapa? dan sedang apa? pasti kopi menjadi hal yang dia cari, lewat karya ini
dia mengungkapkan kesenangannya dengan membuat visual tengkorak sedang membawa
gelas yang berisi kopi yang segar, selama ini dia sedang inten menekuni bentuk
tengkorak, saya lihat banyak karyanya yang tidak meninggalkan visual tengkorak.
Manusia adalah srigala bagi manusia
lainnya, kejahatan nampak pada keserakahan, saling memcelakai demi keuntungan
pribadi adalah hal keji, vega mempunyai kegelisahan demikian’ melihat banyak
fenomena yang terjadi saat ini kekerasan merajalela diman-mana, bunuh membunuh
sudah menjadi hal biasa bagi manusia lantas apa bedanya kita dengan srigala?
Vega memvisualkannya dengan manusia berkelamin perempuan berkepala srigala,
perempuan memiliki sifat licik yang sulit untuk dibaca, itu berdasarkan
pengalaman dari vega.
Kejujuran nampaknya semakin susah
dicari dalam dewasa ini kadang kita harus membohongi diri sendiri demi suatu
hal yang memaksa diri untuk berbohong, beda dengan seorang bayi yang masih peka
dan dia mengungkapkan setiap hal tergantung apa yang dirasakan, lapar ya bilang
lapar, haus ya bilang haus , sakit ya bilang sakit biarpun pengungkapannya
dengan gerak-geriknya yang kadang ibu si bayipun tak paham tapi hal ini yang
membuat Lahir Setya salut terhadap sifat bayi yang murni dari rasa. Secara
visual lahir memang belum kuat karena dia adalah peserta pameran termuda dan
baru menempuh study di semester 2, tapi menurut saya mentallah yang saat ini
perlahan harus di bangun untuk teknik dan Visual saya pikir akan mengikuti
seiring berjalannya waktu.
Perkembangan dunia semakin cepat
persaingan semakin ketat adanya teknologi dan informasi yang mudah didapat
membuat manusia menjadi gampang menerima pengetahuan yang berlipat, mau tidak
mau kita dipaksa harus mengikutinya dan menghadapi dengan potensi yang
dimiliki kalaupun kita hanya berdiam
diri dan tidak melakuakan apa-apa maka kita akan tenggelam dalam arus globalisasi
dunia, nurina memiliiki kegelisahan demikian yang digambarkan dengan teknik
slickscren on canvas dengan karakternya yang lucu-lucu.
Merakit
kapal untuk mencapai tujuan, dalam hamparan samudra yang luas tersimpan banyak keindahan
yang harus di jelajahi’ kapal sebagai alat transportsi yang tepat untuk
digunakan dalam penjelajahan, supaya aman dan
nyaman kontruksi rakitan kapal harus kuat dan tepat. gilang mencoba
memahami bahwa ketika kita mempunyai tujuan besar maka kita harus mengatur
langkah dan usaha keras yang bisa dilakukan supaya tujuan itu bisa tercapai
sesuai dengan apa yang diharapkan, Suasana kerja keras nampak pada karya
gilang.
Rudy cobain
menuangkan pengetahuan-pengetahuan yang di dapat dari pesantren dulu dalam
karya ukir tekannya, nafsu merupakan musuh besar yang dimiliki manusia tapi
selalu ada cahaya yang bisa membuat kita sadar dengan perilaku kita, tinggal
bagaimana ketika kita sudah sadar dengan apa yang dilakukan apakah mau menjadi
lebih baik atau sama saja? tentunya pertanyaan itu menjadi renungan untuk kita.
Para tokoh pewayangan kurawa diambil rudy sebagai simbol nafsu jahat dan
seorang qolifah berkuda yang sedang melawannya.
Chairol imam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar