Sabtu, 25 Juni 2016

Santai Mulu ?





Penyesalan selalu datang di akhir, aku selalu sepakat dengan kata itu banyak orang yang lebih tua dariku bercerita tentang apa yang telah mereka lakukan dulu dan apa yang mereka dapat sekarang tentunya tidak jauh dari usaha  yang telah mereka lakukan kemarin. Rata-rata apa yang mereka sesali pada waktu dulu karena mereka tidak berbuat sesuatu atau terlalu santai akibatnya mereka tidak menjadi apa yang mereka inginkan di keesokan harinya karena keinginan tidak  sebanding dengan usahanya, tentunya menjadi catatan penting bagi kita semua.
Santai mulu? Atau santai terus? arti kata di sini adalah menanyakan apa sih yang kita lakukan saat santai? kok santai terus? memang tidak ada kerjaan? ataukah lari dari kenyataan? pertanyaan tersebut tentu menjadi sebuah kegelisahan yang sangat mengganggu. Banyak fakta yang selalu saya dengar, lihat, dan kadang saya fikir’ orang yang menyatakan bahwa hidupnya selalu monoton ‘gini-gini aja’ tapi yang membuat seperti itu adalah dirinya sendiri padahal memaknai kata santai menjadi lebih positif adalah mengapa kita tidak melakukan sesuatu yang berguna dengan tidak ada ketegangan atau santai? Bukan santai tanpa melakukan apa-apa secara terus menerus tiada esensi yang positif, sehingga menjadi kebiasaan atau habit.
Aktivitas santai tentu tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang melakukan itu dengan pemaknaan yang berbeda-beda, menjadi diri sendiri memang baik tapi sejauh mana diri kita bisa bermanfaat bagi sesama, itu yang lebih baik bukan menjadi diri sendiri untuk apatis terhadap lingkungannya, bukankah seniman itu peka terhadap sekitarnya. Udara yang sejuk selalu membuat kita tenang dan nyaman tapi sebenarnya itu salah satu peringatan yang dilakukan alam supaya kita peka terhadap sekitar sebagaimana kita merasakan udara yang sejuk itu.
Solo menjadi banyak pembicaraan tentang aktivitas seni rupanya yang adem ayem tapi nampaknya memang benar. Segudang persoalan yang ada dan begitu kompleks coba dipecahkan oleh beberapa komunitas , secara perlahan mulai terpetakan tapi saya pikir masih sedikit sekali pemikir dan pelaku untuk membuat gerakan demi mencapai infrastruktur seni rupa yang belum terbentuk dengan baik, tentunya menjadi PR bagi kita semua untuk yang saat ini tinggal dan berkesenian di solo.
Pameran kali ini diikuti oleh 8 anak muda yang tergabung dalam acara presentasi karya di ‘NongSants’(Nongkrong Santai), lewat acara NongSants tersebut teman-teman masih membawa spirit santai mereka dalam pameran kali ini, mereka mencoba mengevaluasi  apa yang telah mereka lakukan dalam proses mereka masing-masing dan membawanya dalam pameran kali ini karena mereka juga menyadari bahwa santai tanpa melakukan apa-apa juga membuat mereka stagnan.


Fadil algofar dalam proses penciptaan karyanya dia selalu membawakan konsep-konsep pribadi menjadikan dirinya sendiri sebagai ide dalam karya-karyanya. ‘Hasrat’ judul karya berukuran 40x70 cm menceritakan tentang keinginan yang banyak sekali ingin dia wujudkan tapi dalam kenyataannya tak semudah membalikan tangan dan tak seindah seperti dalam angan-angan pasti ada halngan rintangan yang harus dihadapinya perlu proses dan waktu yang panjang untuk mewujudkan keinginannya. Saya pikir cukup menarik dia menggunakan objek-objek sederhana dalam karyanya seperti tangan, gelas , mata , paku dan rantai yang dia ilustrasikan menjadi sebuah karya yang bisa mudah dipahami oleh yang melihat karyanya.   
M. Nursina membuat pengulangan-pengulangan garis hingga membentuk sebuah objek vespa dan pengemudinya dengan membawa nuansa yang romantis dia menjadikan karyanya hidup dan berirama, nursina adalah seorang perantau dari padang yang menempuh pendidikan di solo . jarak rumah dan kota perantauannya cukup jauh hingga dia kalau sekali pulang harus menghabiskan banyak uang, oleh sebab itu dia jarang pulang seperti bang toyib yang di rindukan orang rumah karena tak kunjung datang dengan latar belakang kerinduan orang rumahnya dia menciptakan karya tersebut.
Nikmatnya kopi membuat orang lupa waktu begitu kata shofi pemuda asal lamongan yang hobinya ngopi tak peduli jam berapa? dan sedang apa? pasti kopi menjadi hal yang dia cari, lewat karya ini dia mengungkapkan kesenangannya dengan membuat visual tengkorak sedang membawa gelas yang berisi kopi yang segar, selama ini dia sedang inten menekuni bentuk tengkorak, saya lihat banyak karyanya yang tidak meninggalkan visual tengkorak.
Manusia adalah srigala bagi manusia lainnya, kejahatan nampak pada keserakahan, saling memcelakai demi keuntungan pribadi adalah hal keji, vega mempunyai kegelisahan demikian’ melihat banyak fenomena yang terjadi saat ini kekerasan merajalela diman-mana, bunuh membunuh sudah menjadi hal biasa bagi manusia lantas apa bedanya kita dengan srigala? Vega memvisualkannya dengan manusia berkelamin perempuan berkepala srigala, perempuan memiliki sifat licik yang sulit untuk dibaca, itu berdasarkan pengalaman dari vega.

Kejujuran nampaknya semakin susah dicari dalam dewasa ini kadang kita harus membohongi diri sendiri demi suatu hal yang memaksa diri untuk berbohong, beda dengan seorang bayi yang masih peka dan dia mengungkapkan setiap hal tergantung apa yang dirasakan, lapar ya bilang lapar, haus ya bilang haus , sakit ya bilang sakit biarpun pengungkapannya dengan gerak-geriknya yang kadang ibu si bayipun tak paham tapi hal ini yang membuat Lahir Setya salut terhadap sifat bayi yang murni dari rasa. Secara visual lahir memang belum kuat karena dia adalah peserta pameran termuda dan baru menempuh study di semester 2, tapi menurut saya mentallah yang saat ini perlahan harus di bangun untuk teknik dan Visual saya pikir akan mengikuti seiring berjalannya waktu.
Perkembangan dunia semakin cepat persaingan semakin ketat adanya teknologi dan informasi yang mudah didapat membuat manusia menjadi gampang menerima pengetahuan yang berlipat, mau tidak mau kita dipaksa harus mengikutinya dan menghadapi dengan potensi yang dimiliki  kalaupun kita hanya berdiam diri dan tidak melakuakan apa-apa maka kita akan tenggelam dalam arus globalisasi dunia, nurina memiliiki kegelisahan demikian yang digambarkan dengan teknik slickscren on canvas dengan karakternya yang lucu-lucu.
            Merakit kapal untuk mencapai tujuan, dalam hamparan samudra yang luas tersimpan banyak keindahan yang harus di jelajahi’ kapal sebagai alat transportsi yang tepat untuk digunakan dalam penjelajahan, supaya aman dan  nyaman kontruksi rakitan kapal harus kuat dan tepat. gilang mencoba memahami bahwa ketika kita mempunyai tujuan besar maka kita harus mengatur langkah dan usaha keras yang bisa dilakukan supaya tujuan itu bisa tercapai sesuai dengan apa yang diharapkan, Suasana kerja keras nampak pada karya gilang.
            Rudy cobain menuangkan pengetahuan-pengetahuan yang di dapat dari pesantren dulu dalam karya ukir tekannya, nafsu merupakan musuh besar yang dimiliki manusia tapi selalu ada cahaya yang bisa membuat kita sadar dengan perilaku kita, tinggal bagaimana ketika kita sudah sadar dengan apa yang dilakukan apakah mau menjadi lebih baik atau sama saja? tentunya pertanyaan itu menjadi renungan untuk kita. Para tokoh pewayangan kurawa diambil rudy sebagai simbol nafsu jahat dan seorang qolifah berkuda yang sedang melawannya.
Chairol imam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar