Lir-ilir
Lir-ilir,
lir-ilir
Tandure
wis sumilir
Tak ijo
royo-royo tak senggo temanten
anyar
Cah
angon-cah angon penekno blimbing
kuwi
Lunyu-lunyu
yo penekno kanggo mbasuh
dodotiro
Dodotiro-dodotiro
kumitir bedhah ing
pinggir
Dondomono
jlumatono kanggo sebo
mengko
sore
Mumpung
padhang rembulane,
mumpung jembar
kalangane
Yo
surako… surak iyo…
Masih
ingatkah lagu yang sering dinyanyikan ketika masa kecil ? dengan penuh rasa
semangat riang gembira kita bersorak kompak menyanyikan lagu ini dengan bahasa
jawa tanpa mengetahui apa sih maksud dari lagu ini yang penting teriak hafal
hati merasa senang.
Arti Lirik Lagu Lir-ilir
Bangunlah,
bangunlah
Tanaman
sudah bersemi
Demikian
menghijau bagaikan pengantin
baru
Anak
gembala, anak gembala panjatlah
(pohon)
belimbing itu
Biar
licin dan susah tetaplah kau panjat
untuk
membasuh pakaianmu
Pakaianmu,
pakaianmu terkoyak-koyak di
bagian
samping
Jahitlah,
benahilah untuk menghadap nanti
sore
Mumpung
bulan bersinar terang,mumpung
banyak
waktu luang
Ayo
bersoraklah dengan sorakan iya
Demikianlah kalau dalam bahasa indonesia tetapi belum cukup
paham ketika dibaca, karena hampir seluruh liriknya adalah perumpamaan atau
syair yang umum di dengar dan mudah untuk dihafal.
Makna lagu Lir-ilir
Sebagai
umat Islam kita diminta bangun.
Bangun
dari keterpurukan, bangun dari
sifat
malas untuk lebih mempertebal
keimanan
yang telah ditanamkan oleh Alloh
dalam
diri kita yang dalam ini
dilambangkan
dengan tanaman yang mulai
bersemi
dan demikian menghijau. Terserah
kepada
kita, mau tetap tidur dan
membiarkan
tanaman iman kita mati atau
bangun
dan berjuang untuk
menumbuhkan
tanaman tersebut hingga
besar dan
mendapatkan kebahagiaan
seperti
bahagianya pengantin baru.
Disini
disebut anak gembala karena oleh
Allah,
kita telah diberikan sesuatu untuk
digembalakan
yaitu HATI. Bisakah kita
menggembalakan
hati kita dari dorongan
hawa
nafsu yang demikian kuatnya?
Si anak gembala diminta memanjat pohon
belimbing
yang notabene buah belimbing
bergerigi
lima buah. Buah belimbing disini
menggambarkan
lima rukun Islam. Jadi
meskipun
licin, meskipun susah kita harus
tetap
memanjat pohon belimbing tersebut
dalam
arti sekuat tenaga kita tetap
berusaha
menjalankan Rukun Islam apapun
halangan
dan resikonya. Lalu apa gunanya?
Gunanya
adalah untuk mencuci pakaian kita
yaitu
pakaian taqwa
Pakaian
yang dimaksuda adalah pakaian
taqwa
kita. Sebagai manusia biasa pasti terkoyak dan berlubang di sana sini, untuk
itu kita
diminta untuk selalu memperbaiki
dan
membenahinya agar kelak kita sudah
siap
ketika dipanggil menghadap kehadirat
Allah SWT.
Kita
diharapkan melakukan hal-hal diatas
ketika
kita masih sehat (dilambangkan
dengan
terangnya bulan) dan masih
mempunyai
banyak waktu luang dan jika
ada yang
mengingatkan maka jawablah
dengan
iya.
Inilah
makna dari lagu lir-ilir yang sebenarnya saat dinyanyikan anak-anak, orang tua
atau dewasa entah itu beragama islam ataupun non islam tapi tetap menyenangkan
jika dinyanyikan bersama-sama disini lagu lir-ilir mengandung sikap toleransi
secara tidak langsung karena lagu yang bersyair umum ternyata memiliki makna
yang dalam tentang ajakan untuk melaksanakan ajaran-ajaran islam.
Padahal
menurut pengalaman saya ketika waktu SD semua siswa menyanyikan dan hafal,
padahal dikelas itu tidak hanya satu agama tapi ada juga yang beragama non
islam. serta para tetangga saya juga hafal sekali dengan lagu lir-ilir walaupun
dia non islam.
Memang
Sunan Kalijaga menciptakan lagu ini supaya semua kalangan, ras atau agama bisa
menikmati dan menyanyikan kesenian lagu dolanan jawa, dan tidak timbul
perpecahan atau peperangan ketika beliau sedang berdakwah.
Untuk
itu betapa pentingnya kita menjadikan sauri teladan Sunan Kalijaga dan para
Wali Songo yang lain merka berdakwah dengan media kesenian sehingga tidak
tumbuh perpecahan antar umat beragama, tidak seperti fenomena sekarang ini
saling membunuh dan menciderai mengatas namakan agama padahal menurut saya itu
adalah hal yang tidak ada tuntunanya untuk dilakukan.
Trimakasih
semoga bermanfaat.
Sumber
:
Endraswarsa,
Suwardi. 2005. Tradisi Jawa Lisan : Warisan Abdi Budaya Leluhur. Yogyakarta :
Narasi
Nugrahani, Farida. 2008. “Reaktualisai Pembelajaran Bahasa dan Sastra Jawa
dalam Konteks Multikultural” dalam
Pembelajaran Bahasa dan Sastra Daerah dalam Kerangka
Budaya. Mulyana
(Ed). Yogyakarta: Tiara Wacana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar