Minggu, 20 Maret 2016

Toleransi Yang Terkandung Dalam Lagu Dholanan Lir-Ilir

Lir-ilir

Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten
anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing
kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh
dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing
pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo
mengko sore
Mumpung padhang rembulane,
mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak iyo…


Masih ingatkah lagu yang sering dinyanyikan ketika masa kecil ? dengan penuh rasa semangat riang gembira kita bersorak kompak menyanyikan lagu ini dengan bahasa jawa tanpa mengetahui apa sih maksud dari lagu ini yang penting teriak hafal hati merasa senang.

Arti Lirik Lagu Lir-ilir

Bangunlah, bangunlah
Tanaman sudah bersemi
Demikian menghijau bagaikan pengantin
baru
Anak gembala, anak gembala panjatlah
(pohon) belimbing itu
Biar licin dan susah tetaplah kau panjat
untuk membasuh pakaianmu
Pakaianmu, pakaianmu terkoyak-koyak di
bagian samping
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti
sore
Mumpung bulan bersinar terang,mumpung
banyak waktu luang
Ayo bersoraklah dengan sorakan iya


        Demikianlah kalau dalam bahasa indonesia tetapi belum cukup paham ketika dibaca, karena hampir seluruh liriknya adalah perumpamaan atau syair yang umum di dengar dan mudah untuk dihafal.

Makna lagu Lir-ilir 

Sebagai umat Islam kita diminta bangun.
Bangun dari keterpurukan, bangun dari
sifat malas untuk lebih mempertebal
keimanan yang telah ditanamkan oleh Alloh
dalam diri kita yang dalam ini
dilambangkan dengan tanaman yang mulai
bersemi dan demikian menghijau. Terserah
kepada kita, mau tetap tidur dan
membiarkan tanaman iman kita mati atau
bangun dan berjuang untuk
menumbuhkan tanaman tersebut hingga
besar dan mendapatkan kebahagiaan
seperti bahagianya pengantin baru.
Disini disebut anak gembala karena oleh
Allah, kita telah diberikan sesuatu untuk
digembalakan yaitu HATI. Bisakah kita
menggembalakan hati kita dari dorongan
hawa nafsu yang demikian kuatnya?

 Si anak gembala diminta memanjat pohon

belimbing yang notabene buah belimbing
bergerigi lima buah. Buah belimbing disini
menggambarkan lima rukun Islam. Jadi
meskipun licin, meskipun susah kita harus
tetap memanjat pohon belimbing tersebut
dalam arti sekuat tenaga kita tetap
berusaha menjalankan Rukun Islam apapun
halangan dan resikonya. Lalu apa gunanya?
Gunanya adalah untuk mencuci pakaian kita
yaitu pakaian taqwa
Pakaian yang dimaksuda adalah pakaian
taqwa kita. Sebagai manusia biasa pasti terkoyak dan berlubang di sana sini, untuk
itu kita diminta untuk selalu memperbaiki
dan membenahinya agar kelak kita sudah
siap ketika dipanggil menghadap kehadirat
Allah SWT.
Kita diharapkan melakukan hal-hal diatas
ketika kita masih sehat (dilambangkan
dengan terangnya bulan) dan masih
mempunyai banyak waktu luang dan jika
ada yang mengingatkan maka jawablah
dengan iya.


Inilah makna dari lagu lir-ilir yang sebenarnya saat dinyanyikan anak-anak, orang tua atau dewasa entah itu beragama islam ataupun non islam tapi tetap menyenangkan jika dinyanyikan bersama-sama disini lagu lir-ilir mengandung sikap toleransi secara tidak langsung karena lagu yang bersyair umum ternyata memiliki makna yang dalam tentang ajakan untuk melaksanakan ajaran-ajaran islam.
Padahal menurut pengalaman saya ketika waktu SD semua siswa menyanyikan dan hafal, padahal dikelas itu tidak hanya satu agama tapi ada juga yang beragama non islam. serta para tetangga saya juga hafal sekali dengan lagu lir-ilir walaupun dia non islam.
Memang Sunan Kalijaga menciptakan lagu ini supaya semua kalangan, ras atau agama bisa menikmati dan menyanyikan kesenian lagu dolanan jawa, dan tidak timbul perpecahan atau peperangan ketika beliau sedang berdakwah.
Untuk itu betapa pentingnya kita menjadikan sauri teladan Sunan Kalijaga dan para Wali Songo yang lain merka berdakwah dengan media kesenian sehingga tidak tumbuh perpecahan antar umat beragama, tidak seperti fenomena sekarang ini saling membunuh dan menciderai mengatas namakan agama padahal menurut saya itu adalah hal yang tidak ada tuntunanya untuk dilakukan.
Trimakasih semoga bermanfaat.  

Sumber :
Endraswarsa, Suwardi. 2005. Tradisi Jawa Lisan : Warisan Abdi Budaya Leluhur. Yogyakarta : Narasi
Nugrahani,  Farida. 2008. Reaktualisai PembelajaraBahasa dan Sastra Jawa dalam Konteks Multikultural” dalam   Pembelajaran Bahasa dan Sastra Daerah dalam Kerangka Budaya. Mulyana (Ed). Yogyakarta Tiara Wacana.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar