Minggu, 27 Maret 2016

Sri Minggat


sumber : http://doctorseducati.blogspot.co.id/2011/06/awal-mula-musik-campursari.html

Musik campursari adalah Musik yang merupakan paduan dari musik karawitan dan dangdut.istilah campursari dalam dunia musik nasional Indonesia mengacu pada campuran (crossover) beberapa genre musik contemporer Indonesia. Nama campursari diambil dari bahasa jawa yang sebenarnya bersifat umum. Musik campur sari di wialayah bagian tengah hingga timur khususnya terkait dengan modifikasi alat-alat musik gamelan sehingga dapat di kombinasi dengan musik barat,atau sebaliknya. Dalam kenyataanya instrumen-instrumen asing ini tunduk pada pakem musik yang disukai masyarakat setempat;langganan jawa gendhing. Campursari pertama kali dipopulerkan oleh Mathous dengan memasukan keyboard ke dalam orkestrasi gamelan pada akhir dekade 1980-an melalui kelompok gamelan ‘Maju Lancar’ kemudian secara pesat masuk unsur-unsur baru seperti langgam jawa (keroncomg) serta akhirnya dangdut. Pada dekade 2000an telah dikenal bentuk bentuk campursari yang merupakan campuran gamelan dan keroncong (misalnya kena godho dari Nurhana), campuran gamelan dan dangdut, serta keroncong dan dangdut (congndut , populer pada lagu Didi kempot). Meskipun perkembangan campursari banyak dikritik oleh pendukung kemurnian aliran-aliran musik ini, semua pihak sepakat bahwa campursari merevitalisasi musik-musik tradisional di wilayah jawa.
Merespon tentang tugas Kajian Budaya Jawa yang bertemakan ‘ Kesenian berhuhubungan dengan perempuan’ saya teringat tentang salah satu lagu jawa yang berjudul ‘Sri Minggat’ di ciptakan oleh Didi Kempot lagu ini sangat boming beberapa tahun yang lalu. Pernahkah teman-teman mendengar? Tau liriknya? Untuk mendengar silahkan download lagunya tapi kalau untuk liriknya saya punya lhoo.., ini silahkan baca :


Sri Minggat
Sri, kapan kowe bali
Kowe lungo ora pamit aku
Jarene neng pasar, pamit tuku trasi
Nganti saiki kowe durung bali

Sri, opo kowe lali
Janjine sehidup semati
Aku ora nyono kowe arep lungo
Loro atiku, atiku loro






reff :

Ndang balio.. Sri..
Ndang balio…o
Aku loro mikir kowe
Ono ning endi..

Ndang balio.. Sri..
Ndang balio.. o
Tego temen
Kowe minggat ninggal aku

Yen pancene Sri
Kowe eling aku
Ndang balio
Aku kangen setengah mati



Terjemahan dalam bahasa indonesia ;
Sri kapan kamu pulang
Kamu pergi tanpa berpamitan denganku
Katanya pergi kepasar, pamit beli terasi
Hingga sekarang kamu belum pulang
Sri apa kamu lupa
Janjinya sehidup semati
Aku tidak menyangka kamu akan pergi
Sakit hatiku, hatiku sakit
Cepat pulang sri
Cepat pulanglah
Aku sakit memikirkanmu Kamu ada dimana
Cepat pulang sri
Cepat pulanglah
Tega sekali kamu tinggalkan aku
Jika benar Sri, kamu ingat padaku
Segera pulang, aku rindu setengah mati 

Lagu Sri Minggat ini menceritakan tentang pujaan hatinya yang bernama Sri  pergi entah kemana, katanya pamit hanya beli trasi tapi hanya bohong saja modus untuk meninggalkan sang pria dengan aalsan yang tidak jelas, Sri ini pernah berjanji kepada sang lelaki untuk bersama sehidup semati tapi nyatanya dia malah pergi meninggalkan tanpa jejak, sang lelaki benar benar dikhianati hatinya sangatt begetiu sakit.
Meskipun hatinya sang lelaki sangat sakit setengah mati tapi dia tetap bertanya tanya sri kemana dan berharap dia untuk pulang, dengan rintihan rintihan kenapa sri kamu tega meninggalkan aku sungguh malang sekali. kalaupun sri mengingat sang leleki dia (lelaki) berharap Mbak Sri ini untuk segera pulang karena drinya benar benar sudah rindu setengah mati.
Lagu ini merupakan suatu kesenian yang menunjukan betapa pentingnya seorang wanita atau perempuan untuk lelaki karena jika sang perempuan tak ada maka hidup sang lelaki tak akan sempurna dalam sebuah pasangan, jadi untuk para perempuan harus menyadari itu hahaha
Trimakasih semga bermanfaat




Minggu, 20 Maret 2016

Toleransi Yang Terkandung Dalam Lagu Dholanan Lir-Ilir

Lir-ilir

Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten
anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing
kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh
dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing
pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo
mengko sore
Mumpung padhang rembulane,
mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak iyo…


Masih ingatkah lagu yang sering dinyanyikan ketika masa kecil ? dengan penuh rasa semangat riang gembira kita bersorak kompak menyanyikan lagu ini dengan bahasa jawa tanpa mengetahui apa sih maksud dari lagu ini yang penting teriak hafal hati merasa senang.

Arti Lirik Lagu Lir-ilir

Bangunlah, bangunlah
Tanaman sudah bersemi
Demikian menghijau bagaikan pengantin
baru
Anak gembala, anak gembala panjatlah
(pohon) belimbing itu
Biar licin dan susah tetaplah kau panjat
untuk membasuh pakaianmu
Pakaianmu, pakaianmu terkoyak-koyak di
bagian samping
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti
sore
Mumpung bulan bersinar terang,mumpung
banyak waktu luang
Ayo bersoraklah dengan sorakan iya


        Demikianlah kalau dalam bahasa indonesia tetapi belum cukup paham ketika dibaca, karena hampir seluruh liriknya adalah perumpamaan atau syair yang umum di dengar dan mudah untuk dihafal.

Makna lagu Lir-ilir 

Sebagai umat Islam kita diminta bangun.
Bangun dari keterpurukan, bangun dari
sifat malas untuk lebih mempertebal
keimanan yang telah ditanamkan oleh Alloh
dalam diri kita yang dalam ini
dilambangkan dengan tanaman yang mulai
bersemi dan demikian menghijau. Terserah
kepada kita, mau tetap tidur dan
membiarkan tanaman iman kita mati atau
bangun dan berjuang untuk
menumbuhkan tanaman tersebut hingga
besar dan mendapatkan kebahagiaan
seperti bahagianya pengantin baru.
Disini disebut anak gembala karena oleh
Allah, kita telah diberikan sesuatu untuk
digembalakan yaitu HATI. Bisakah kita
menggembalakan hati kita dari dorongan
hawa nafsu yang demikian kuatnya?

 Si anak gembala diminta memanjat pohon

belimbing yang notabene buah belimbing
bergerigi lima buah. Buah belimbing disini
menggambarkan lima rukun Islam. Jadi
meskipun licin, meskipun susah kita harus
tetap memanjat pohon belimbing tersebut
dalam arti sekuat tenaga kita tetap
berusaha menjalankan Rukun Islam apapun
halangan dan resikonya. Lalu apa gunanya?
Gunanya adalah untuk mencuci pakaian kita
yaitu pakaian taqwa
Pakaian yang dimaksuda adalah pakaian
taqwa kita. Sebagai manusia biasa pasti terkoyak dan berlubang di sana sini, untuk
itu kita diminta untuk selalu memperbaiki
dan membenahinya agar kelak kita sudah
siap ketika dipanggil menghadap kehadirat
Allah SWT.
Kita diharapkan melakukan hal-hal diatas
ketika kita masih sehat (dilambangkan
dengan terangnya bulan) dan masih
mempunyai banyak waktu luang dan jika
ada yang mengingatkan maka jawablah
dengan iya.


Inilah makna dari lagu lir-ilir yang sebenarnya saat dinyanyikan anak-anak, orang tua atau dewasa entah itu beragama islam ataupun non islam tapi tetap menyenangkan jika dinyanyikan bersama-sama disini lagu lir-ilir mengandung sikap toleransi secara tidak langsung karena lagu yang bersyair umum ternyata memiliki makna yang dalam tentang ajakan untuk melaksanakan ajaran-ajaran islam.
Padahal menurut pengalaman saya ketika waktu SD semua siswa menyanyikan dan hafal, padahal dikelas itu tidak hanya satu agama tapi ada juga yang beragama non islam. serta para tetangga saya juga hafal sekali dengan lagu lir-ilir walaupun dia non islam.
Memang Sunan Kalijaga menciptakan lagu ini supaya semua kalangan, ras atau agama bisa menikmati dan menyanyikan kesenian lagu dolanan jawa, dan tidak timbul perpecahan atau peperangan ketika beliau sedang berdakwah.
Untuk itu betapa pentingnya kita menjadikan sauri teladan Sunan Kalijaga dan para Wali Songo yang lain merka berdakwah dengan media kesenian sehingga tidak tumbuh perpecahan antar umat beragama, tidak seperti fenomena sekarang ini saling membunuh dan menciderai mengatas namakan agama padahal menurut saya itu adalah hal yang tidak ada tuntunanya untuk dilakukan.
Trimakasih semoga bermanfaat.  

Sumber :
Endraswarsa, Suwardi. 2005. Tradisi Jawa Lisan : Warisan Abdi Budaya Leluhur. Yogyakarta : Narasi
Nugrahani,  Farida. 2008. Reaktualisai PembelajaraBahasa dan Sastra Jawa dalam Konteks Multikultural” dalam   Pembelajaran Bahasa dan Sastra Daerah dalam Kerangka Budaya. Mulyana (Ed). Yogyakarta Tiara Wacana.