Jumat, 29 April 2016

berbagi dengan semut

semut merah merayap dimana-mana
meraba segala sesuatu yang ada dekatnya
membelai benda, meluk dingin  udara
ingin dia berbicara dengan apa yang lebih besar darinya

aku ingin bersahabat dengan mu tuan nyonya
maukah dirimu mennjadi sahabatku tuan dan nyonya
aku tak akan menggigitmu aku hanya ingin berada didekatmu
higgap disetiap jemarimu ikut berbaur

jangan kau membunuhku memukul dengan tangan besarmu
aku ingin hidup sepertimu bebas melakukan apapun
merasakan indanya rembulan dan dingin malam
merasakan panasnya matahari dan indahnya senja

apa kau tak mau menikmati bersamaku tuan dan nyonya?
 semoga saja kamu mau berbagi dengan ku
di setiap saat waktu ada aku
timaksih ku ucapkan kalau mengerti aku..

Minggu, 03 April 2016

Sztsdtdstdsgdgdzgsgszdgszggdfgdhydkmyrry6dryseststzmrdrdrkrdkre6k

pangkur dan nasihat untuk generasi muda

Tembang macapat pangkur bernuansa Pitutur(nasihat), pertemanan, dan cinta. Baik rasa cinta kepada anak, pendamping hidup, Tuhan dan alam semesta. Banyak yang memaknai tembang macapat pangkur sebagai salah satu tembang yang berbicara tentang seseorang yang telah menginjak usia senja, dimana orang tersebut mulai mungkur atau mengundurkan diri dari hal-hal keduniawian. Oleh karena itu sangat banyak tembang-tembang macapat pangkur yang berisi nasihat-nasihat pada generasi muda.

Berikut adalah contoh lirik pangkur:
Jinejer ing Wedhatama
(Tersaji dalam serat Wedhatama)
Mrih tan kemba kembenganing pambudi
(Agar jangan miskin budi pekerti)
Mangka nadyan tuwa pikun
(Padahal meskipun tua dan pikun)
Yen tan mikani rasa
(bila tak memahami rasa)
Yekti sepi sepa lir sepah asamun
(Tentu sangat kosong dan hambar seperti ampas buangan)
Samasane pakumpulan
(Ketika dalam pergaulan)
Gonyak-ganyuk nglelingsemi.
(Terlihat bodoh memalukan)

            Dari tembang macapat pangkur diatas dapat ditafsirkan bahwa, perlu memilih dan menggunakan kata-kata yang bijak dalam mendidik anak. Dari cara bertutur orang tua harus bisa menjadi contoh yang baik, karena dengan kata-kata yang baik tentu akan lebih nyaman untuk didengarkan. Mendidik bisa melalui tembang yang dirangkai indah agar menarik, sehingga semua nasihat-nasihat tentang ilmu luhur yang ada di tanah jawa dapat dihayati, dan agama bisa menjadi salah satu ajaran dalam kehidupan diri.
            Dalam serat Wedhatama pupuh I ini, KGPAA Mangkunegoro IV memberi sebuah gambaran akan pentingnya manusia untuk selalu belajar agar dapat menguasai ilmu luhur. Yang dimaksut dengan ilmu luhur dalam konteks kekinian tentu cerdas secara intelektual (IQ), cerdas secara emosi dan spiritual (ESQ). Cerdas secara intelektual berarti dia pandai dalam menggunakan logika-logika, sedangkan cerdas secara emosi dan spiritual berarti ia mampu mengelola emosi, sikap, mampu membawa diri, dan memiliki kesadaran tinggi atas dirinya dengan lingkungan dan Tuhannya.
Tembang macapat pangkur di atas hanya merupakan tembang pembuka dalam serat Wedhatama Pupuh I Pangkur. Dalam bait-bait tembang berikutnya KGPAA Mangkunegoro IV dengan jelas juga memberi gambaran tentang perbedaan orang-orang yang berilmu luhur dengan orang yang kurang ilmu. 
coba pahami artinya:

————————
Nggugu karsane priyangga,
(Menuruti kemauan sendiri)
Nora nganggo peparah lamun angling,
(Tanpa tujuan jika berbicara)
Lumuh ingaran balilu
(Tak mau dikatakan bodoh)
Uger guru aleman,
(Seolah pandai agar dipuji)
Nanging janma ingkang wus waspadeng semu,
(Namun manusia yang telah mengetahui akan gelagatnya)
Sinamun samudana,
(Malah merendahkan diri)
Sesadoning adu manis.
(Menanggapi semuanya dengan baik)
——————————–
Si pengung nora nglegewa,
(Si bodoh tak menyadari)
Sangsayarda denira cacariwis,
(Semakin menjadi dalam membual)
Ngandhar-andhar angendukur,
(bicaranya ngelantur kesana-kemari)
Kandhane nora kaprah,
(Ucapannya salah kaprah)
Saya elok alangka longkangipun,
(Semakin sombong bicara tanpa jeda)
Si wasis waskitha ngalah,
(Si bijak mengalah)
Ngalingi marang sipingging.
(Menutupi ulah si bodoh)
————————-
Mangkono ilmu kang nyata,
(Begitulah ilmu yang benar)
Sanyatane mung we reseping ati,
(Sejatinya hanya untuk menentramkan hati)
Bungah ingaran cubluk,
(Senang jika dianggap bodoh)
Sukeng tyas yen den ina,
(Bahagia dihati bila dihina)
Nora kaya si punggung anggung gumunggung,
(Tak seperti Si bodoh yang haus pujian)
Ugungan sadina dina,
(Ingin dipuji tiap hari)
Aja mangkono wong urip.
(Jangan seperti itu manusia hidup)
———————-
Uripe sapisan rusak,
(Hidup sekali rusak)
Nora mulur nalare ting saluwir,
(Tidak berkembang akalnya berantakan)
Kadi ta guwa kang sirung,
(Seperti gua gelap yang angker)
Sinerang ing maruta,
(Diterjang angin)
Gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung
(Bergemuruh bergema tanpa makna)
Pindha padhane si mudha,
(Seperti itulah anak muda kurang ilmu)
Prandene paksa kumaki.
(Namun sangat angkuh)
         Sungguh keren sekali ketika sebuah lagu local menyimpan makna yang sangat mendalam yang berisi tentang nasehat nasehat yang inspiratif untuk bekal generasi muda tapi kembali lagi bagaimana sebuah tembang itu bisa memberi energi jika dipahami konteksnya tidak hanya liriknya saja.

sumber
kesolo.com
Budhy Moehanto. (1987), Tuntunan Sekar Macapat, CV Mitra Utama, Pemalang.


 Dewantara, Ki Hadjar. (1967), Kebudajaan II A, Majelis Luhur Tamansiswa, Yogyakarta.